Parade budaya warnai ibadah Pekabaran Injil di Jayawijaya - Warta 24 Papua
GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Parade budaya warnai ibadah Pekabaran Injil di Jayawijaya

Parade budaya warnai ibadah Pekabaran Injil di Jayawijaya

Wamena (Antaranews Papua) - Parade budaya umat Kristiani dari berbagai suku di Indonesia mewarnai ibadah peringatan Pekabaran Injil (PI) Ke-163, yang dilaksanakan di Kabupa…

Parade budaya warnai ibadah Pekabaran Injil di Jayawijaya

Wamena (Antaranews Papua) - Parade budaya umat Kristiani dari berbagai suku di Indonesia mewarnai ibadah peringatan Pekabaran Injil (PI) Ke-163, yang dilaksanakan di Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua, Senin.
Ketua Klasis Baliem Yalimo Pendeta Abraham I Ungirwalu STh di Wamena, Ibu Kota Kabupaten Jayawijaya, mengatakan parade budaya tersebut menceritakan bahwa melalui firman Tuhan, semua orang dari berbagai suku berbeda bisa hidup rukun, terutama di Jayawijaya.
"Tujuan parade bahwa hanya karena Injil semua orang bisa menjadi satu kekeluargaan. Itu adalah sebuah kekayaan, dan kekayaan yang ada dalam kemajemukan ini mari kita bangun menjadi kekuatan untuk melakukan Pekabaran Injil," katanya.
Parade tersebut antara lain ditampilkan Paguyuban Jawa dan sekitarnya, Batak, Toraja, Minahas, Flobamora, Maluku dan Papua.
Menurut Pendeta Abraham, PI dimaksudkan untuk hubungan kehidupa n sosial, termasuk interaksi dengan orang lain di sekitar lingkungan masing-masing agar lebih baik dari hari-hari sebelumnya.
Suku Jawa di Kabupaten Jayawijaya, Papua saat menampilkan Parade Budaya pada ibadah HUT Pekabaran Injil (PI) Ke-163, yang dilakukan di Jayawijaya, Senin (5/1). (Foto: Antaranews Papua/Marius Frisson Yewun) (Foto: Antaranews Papua/Marius Frisson Yewun/)

"Pemberitaan Injil itu tidak hanya terletak pada pribadi, oknum atau kalangan rohaniawan, sebab pekerjaan Pekabaran Injil adalah bagian dari memanusiakan sesama manusia sehingga kita semua memiliki suasana atau kehidupan yang lebih baik," katanya.
Dalam khotbahnya, Pendeta Sientje Latuputty mengatakan sebelum Injil masuk ke Papua di Pulau Mansinam (Manokwari) pada 5 Februari 1855, penduduk Papua masih hidup dalam kegelapan yaitu melakukan perbuata n yang bertentangan dengan firman Tuhan, misalnya membunuh, dan saling memangsa.
"Membunuh suku lain pada waktu itu adalah sikap pahlawan, saling memangsa. Itu yang terjadi ketika pertama kali Ottow dan Geissler (warga Jerman pembawa ajaran Kristen di Papua) datang di Papua. Mereka tidak mengeruk tambang, mencari kekayaan, tetapi mereka datang untuk mencari manusia dan memberikan Injil Kristus," katanya.
Doa bersama HUT PI di Jayawijaya yang berlangsung di Halaman Gedung Gereja Ukul Ebe Huni, Kelurahan Sikamka itu, dihadiri sekitar 200-an lebih umat Kristen.
Ibadah yang berlangsung sejak pukul 09.00 WIT itu berlangsung aman dan lancar hingga selesai. (*)Sumber: Google News | Warta 24 Kabupaten Yalimo

Tidak ada komentar