Jalan Provinsi Bian-Okaba Kini jadi jalan Setapak - Warta 24 Papua
GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Jalan Provinsi Bian-Okaba Kini jadi jalan Setapak

Jalan Provinsi Bian-Okaba Kini jadi jalan Setapak

Login/Daftar Home��…

Jalan Provinsi Bian-Okaba Kini jadi jalan Setapak

Facebook Twitter Google+ RSS RSS Login/Daftar
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Domberai
    • Bomberai
    • Lapago
    • Meepago
    • Mamta
    • Saireri
  • Berita Papua
    • Polhukam
    • Pendidikan dan Kesehatan
    • Otonomi
    • Nasional & Internasional
    • Lembar Olahraga
    • Jayapura Membangun
    • Infrastruktur
    • Ekonomi, Bisni & Keuangan
    • Seni Budaya
    • Nabire Membangun
  • Pasifik
  • Nusa
    • Ibukota
    • Jawa
    • Sumatera
    • Bali & Nusa Tenggara
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Maluku
  • Artikel
    • Indepth
    • Opini
    • Pengalaman
    • Pernik Papua
    • Perempuan & Anak
    • Selepa
  • More
    • Pilihan Editor
    • Surat & Sumbangan Pembaca
    • Rilis Pers & Advertorial
    • PR Newswire
    • Berita Foto
  • Resources
    • Blog
    • Arsip
    • West Papua Daily
    • Laporan Warga
    • Saya Komen!!!
  • 2013-2016
Show/Hide
  1. Home
  2. Infrastruktur
  3. Jalan Provinsi Bian-Okaba Kini jadi jalan Setapak
  • Kamis, 08 Februari 2018 â€" 06:32
  • 329x views
Jalan Provinsi Bian-Okaba Kini jadi jalan Setapak Ruas jalan provinsi tersebut, seperti jalan menuju hutan atau berburu. Karena di samping kiri-kanan, ditumbuhi rumput tebal dan tinggi. Jalan Bian-Okaba yang ditumbuhi rumput tebal, sehingga menjadi jalur setapak dan hanya bisa dilewati motor â€" Jubi/Frans L Kobun Ans K frans@tabloidjubi.com Editor : Angela Flassy

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

DENGAN menggunakan transportasi laut berupa perahu motor yang oleh masyarakat di Kampung Domande menyebutnya belang, perjalanan menuju ke Bian-Okaba ditempuh dalam waktu kurang lebih setengah jam.

Senin 5 Februari 2018 sekira pukul 14.00, perahu kecil itu berlabuh. Di tempat tersebut, telah menunggu Kepala Kampung Alatep, Distrik Okaba, Jeina Maula Gebze bersama beberapa warga.

Setelah beristirahat, perjalanan kembali dilanjutkan menggunakan dua unit sepeda motor, sekaligus memantau secara langsu ng kondisi ruas jalan Bian-Okaba sepanjang 36 kilometer.

Jatuh-bangun di jalan. Itulah yang dialami dan dirasakan pengendara. Betapa tidak, kondisi ruas jalan rusak parah, disertai lumpur tebal dan kubangan (genangan air).

Pengalaman Jubi melalui jalan dari Bian menuju Okaba, selain kondisi ruas jalan yang sangat memprihatinkan, rumput di kiri-kanan sudah menutupi badan jalan. Belum lagi, pengendara motor harus benar-benar berkonsentrasi saat berkendara. Ruas jalan itu, telah menjadi jalan setapak. Padahal, belasan tahun silam, jalan provinsi tersebut beraspal.

Yustinus Boyen, seorang warga Kampung Alatep, Distrik Okaba menuturkan, sejak ia masih kecil sampai dewasa dan berkeluarga, jalan tersebut tak pernah diperbaiki.

“Dari cerita orangtua kami, dulunya jalan Bian sampai Okaba diaspal. Hanya saja, tidak ada perawatan sama sekali. Sehingga kondisinya menjadi rusak dan kini menjadi jalan setapak yang hanya dapat dilalui seped a motor,” ungkapnya.

Ruas jalan tersebut, katanya, seperti jalan orang menuju hutan sekaligus berburu. Karena di samping kiri-kanan, ditumbuhi rumput tebal dan tinggi.

“Pemerintah terkesan menutup mata melihat kondisi ruas jalan yang rusak ini. Dari tahun berganti tahun, masyarakat terus berteriak agar dperbaiki dan kembali diaspal. Namun sampai sekarang, tak kunjung dilakukan,” katanya.

Kepala Kampung Alatep, Jeina Maula Gebze mengaku, ruas jalan Okaba itu adalah jalan sentral, karena penghubung beberapa distrik lain seperti Tubang, Ngguti, Tabonji hingga Kimaam. Bahkan jalan itu merupakan penghubung ke Bade, Kabupaten Mappi.

“Memang sangat miris kondisi jalannya. Kita harus menembus jalan berlubang maupun berlumpur. Belum lagi rumput di samping kiri-kanan yang tebal dan tinggi,” tuturnya.

Dikatakan, jalan tersebut merupakan satu-satunya jalan jika menggunakan transportasi darat untuk menuju Okaba hingga be berapa distrik lain sampai Bade, Kabupaten Mappi, hanya melalui jalur jalan tersebut.

Karena buruknya kondisi jalan tersebut, lanjut dia, banyak orang yang melintas jatuh di jalan. Apalagi musim hujan seperti saat ini, kondisi jalan menjadi sangat rusak berat dari Bian hingga Okaba.

Dia mengaku, untuk menempuh perjalanan dengan motor dari Bian-Okaba pada musim hujan, biasanya antara tiga sampai empat jam. Kalau musim kemarau dan jalan kering, waktu perjalanan sekitar dua jam perjalanan.

“Tidak tahu dengan cara apa lagi kita bersuara. Selama ini, masyarakat juga terus bertanya-tanya kapan jalan diaspal,” katanya.

“Kami sangat berharap agar baik Pemerintah Kabupaten Merauke maupun provinsi hingga pusat, dapat merespon apa yang disuarakan masyarakat ini,” pintanya lagi.

Sulit pasarkan potensi alam

Kepala Distrik Okaba, Fransis kus Kamijay menjelaskan, jalan Bian-Okaba adalah penghubung untuk beberapa distrik lain. Hanya saja, kondisinya sangat buruk. “Ya, teman-teman jurnalis sudah merasakan bagaimana sulitnya menembus ruas jalan puluhan kilometer yang telah rusak itu,” ujarnya.

Lebih lanjut Kamijay mengatakan, ruas jalan tersebut, hanya dapat dilalui kendaraan roda dua, karena empat jembatan, terbuat dari papan dan merupakan swadaya masyarakat dari beberapa kampung tersebut tidak dapat dilalui kendaraan beroda dua.

“Kondisi ruas jalan dimaksud, sudah lama rusak dan tak kunjung dikerjakan provinsi. Hampir setiap hari, masyarakat menanyakan kapan jalan diperbaiki. Tentunya saya hanya bisa meminta warga bersabar,” katanya.

Kamijau mengaku, beberapa waktu lalu, atas perintah Bupati Merauke, Frederikus Gebze, masyarakat melakukan pembersihan ruas jalan sekitar tiga kilometer. Namun sebagian besar belum. Karena jarak dari Bian-Okaba, mencapai kurang lebih 36 kilometer.

“Betul, dulunya ruas jalan itu telah diaspal, namun sudah rusak. Belum lagi rumput tumbuh, sehingga kini menjadi jalan setapak yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua,” tegasnya.

Kamijay menjelaskan, masyarakat dari semua kampung di Distrik Okaba, berniat turun ke kota untuk bisa menjual hasil alamnya baik kopra maupun tanaman lain termasuk daging. Tetapi kondisi jalan tidak memungkinkan.

“Saya memberikan jaminan ketika jalan sudah diaspal, setiap hari masyarakat akan turun ke kota menjual hasilnya yang dipanen,” tuturnya.

Berbagai keluhan dan aspirasi yang disuarakan masyarakat selama ini, pintanya, agar dapat direspon pemerintah provinsi. Sehingga akses transportasi darat, dapat dijangkau berbagai kalangan.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Merauke, Fransiskus Sirfefa menegaskan, dirinya sudah melihat secara langsung kondisi jalan Bian-Okaba. “Memang sangat memprihatinkan, lantaran mengalami kerusak an. Belum lagi kubangan di tengah jalan, akibat genangan banjir,” katanya.

Setelah melihat kondisi jalan itu, Sirfefa mengaku sudah berkomunikasi bersama Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Merauke, HBL Tobong. Hanya saja, jawaban didapatkan kalau itu adalah jalan provinsi.

“Saya mau tanya, sampai kapan pemerintah membuka mata sekaligus merespon keluhan masyarakat? Apakah hanya menunggu petunjuk provinsi?” tanya dia.

Diharapkan Pemkab Merauke mengambil langkah cepat. “Sebagai dewan, saya tak akan pernah tinggal diam, tetapi terus menyuarakan aspirasi masyarakat ini,” katanya. (*)

loading...
Please enable JavaScript to vie w the comments powered by Disqus.

Sebelumnya

Sabotase pipa, air galon dan tunggakan 1 miliar di RSUD Jayapura

Selanjutnya

Baca Juga
  • Inilah 24 pemain yang lolos seleksi tahap pertama

    Lembar Olahraga â€" Sabtu, 03 Februari 2018
  • Pilkada Serentak 2018, Yalimo dan Pegunungan Bintang tak gunakan sistem noken

    Polhukam â€" Senin, 05 Februari 2018
  • Dana studi akhir ditransfer ke rekening mahasiswa bukan ke pengurus himpunan

    Penkes â€" Kamis, 01 Februari 2018
  • Puluhan Pemda di Papua menerima penghargaan Gubernur

    Otonomi â€" Rabu, 07 Februari 2018
  • Persipura mania akan miliki markas baru

    Lembar Olahraga â€" Jumat, 02 Februari 2018
  • Komen Saya

    • Warga Bicara Soal Tiket Pesawat yang Mahal di Papua 26 November 2015 | 11:58 pm
    • Jejak Pasukan Sekutu di Bougainville 23 November 2015 | 11:44 pm
    • 10 Fakta Hiu Karpet Berbintik 23 November 2015 | 11:34 pm
    • Apa Kata Mereka Tentang Kawasan Cagar Alam Cycloop? 19 November 2015 | 11:26 pm

    Laporan Warga

    Simak Juga Novel Lembayung Senja Dilaunching
    Rabu, 07 Februari 2018 | 14:52
    Diproduksi : West Papua Updates (WPU) SONAMAPA Gelar Literasi Baca Buku Sejarah Papua
    Rabu, 20 Desember 2017 | 22:23
    Diproduksi : West Papua Updates@desember2017 Aksi Tolak Pekuburan Umum
    Rabu, 20 Desember 2017 | 22:17
    Diproduksi : West Papua Updates@desember2017 Kematian Alex Sambom
    Kamis, 14 Desember 2017 | 03:27
    Diproduksi : West Papua Updates Lagu dan Puisi Untuk Kehidupan
    Kamis, 14 Desember 2017 | 03:21
    Diproduksi : West Papua Updates Tuntutan Tutup Freeport
    Kamis, 14 Desember 2017 | 03:37
    Diproduksi : West Papua Updates ‹ › Terkini
    • Gali potensi daerah, jangan hanya migrasi ke Kota

      Ekonomi â€" Kamis, 08 Februari 2018 | 13:22 WP
    • DPR Papua: Dana otsus harus diawasi semua pihak

      Ekonomi â€" Kamis, 08 Februari 2018 | 13:03 WP
    • Setelah Indonesia, Komisaris Tinggi HAM PBB kunjungi PNG dan Fiji

      Pasifik â€" Kamis, 08 Februari 2018 | 12:06 WP
    • Dua negara Pasifik ini belum sepenuhnya “bebas”

      Pasifik â€" Kamis, 08 Februari 2018 | 11:35 WP
    • Himpunan Mahasiswa Lanny Jaya: Dinas Pendidikan jangan hanya janji saja

      Penkes â€" Kamis, 08 Februari 2018 | 11:26 WP
    • Pemda terlambat kirim uang, mahasiswa Papua di Yogya jadi tukang parkir

      Penkes â€" Kamis, 08 Februari 2018 | 11:18 WP
    • Kajian Buku: Kudeta, globalisasi dan perombakan struktur ‘demokrasi’ Fiji

      Pasifik â€" Kamis, 08 Februari 2018 | 10:42 WP
    • Ketika obat malaria habis di Yahukimo

      Penkes â€" Kamis, 08 Februari 2018 | 09:54 WP
    • Sampah dari perkotaan kotori Danau Sentani

      Lingkungan â€" Kamis, 08 Februari 2018 | 09:48 WP
    • Tiga ribu hektar hutan TN Lorentz rusak

      Lingkungan â€" Kamis, 08 Februari 2018 | 08:34 WP
    • Diundang Indonesia ke Papua, Komisioner HAM PBB segera siapkan misi kunjungan

      Nasional & Internasional â€" Kamis, 08 Februari 2018 | 08:28 WP
    • Jalan Provinsi Bian-Okaba Kini jadi jalan Setapak

      Infrastruktur â€" Kamis, 08 Februari 2018 | 06:32 WP
    • Pengurus Komite Insos Kabor tanah tabi segera dilantik

      Papua â€" Rabu, 07 Februari 2018 | 18:51 WP
    • Tuntut kejelasan Pansus, Foberja memalang pintu DPRD Jayawijaya

      Lapago â€" Rabu, 07 Februari 2018 | 18:35 WP
    • Banjir "undang" longsor di Distrik Demta

      Jayapura Membangun â€" Rabu, 07 Februari 2018 | 18:31 WP
    Stop Press
    • Apakah rakyat Papua Nugini akan lenyap akibat makan pinang?
      Selasa, 14 September 2016
    • 7 Tempat Liburan Paling Ngehits di Indonesia. Mana Favoritmu?
      Rabu, 14 September 2016
    • Studi: kehidupan terancam, level oksigen jatuh 2% dalam 50 tahun
      Minggu, 14 September 2016
    Index » Teras Lampung Ekuatorial Berita Lingkungan DeGorontalo Kabar Kota Berita Bali Kalteng Pos News Balikpapan Suara Kendari Kabar Selebes Suara Papua Cahaya Papua Aceh Traffic Aceh Baru Ranah Minang Merdeka Radio New Zealand International Solomon Star Vanuatu Daily PINA Islands Business Fiji Times Maori TV Post Courier Dedicated for West Papua | From Sorong to Samarai Property of PT Jujur Bicara Papua Search Engine Submissi on - AddMeSumber: Google News | Warta 24 Kabupaten Mappi

Tidak ada komentar