Dokter di Papua ke BEM UI: Di Asmat, Air Mineral untuk Bilas Daki - Warta 24 Papua
GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Dokter di Papua ke BEM UI: Di Asmat, Air Mineral untuk Bilas Daki

Dokter di Papua ke BEM UI: Di Asmat, Air Mineral untuk Bilas Daki

Selasa 06 Februari 2018, 17:55 WIB Dokter di Papua ke BEM UI: Di Asmat, Air Mineral untuk Bilas Daki Sudrajat - detikNews dokter Yafet…

Dokter di Papua ke BEM UI: Di Asmat, Air Mineral untuk Bilas Daki

Selasa 06 Februari 2018, 17:55 WIB Dokter di Papua ke BEM UI: Di Asmat, Air Mineral untuk Bilas Daki Sudrajat - detikNews Dokter di Papua ke BEM UI: Di Asmat, Air Mineral untuk Bilas Daki  dokter Yafet Yanri Sirupang bersama anak-anak Papua. (Foto: Dok. Pribadi via Facebook) Jakarta -

Yafet Yanri Sirupang yang pernah bertugas sebagai dokter PTT di Papua memberikan nasehat dan kritik untuk Ketua BEM UI Zaadit Taqwa. Lewat akun facebooknya, Yafet mengaku terusik dengan aksi 'kartu kuning' Zaadit kepada Presiden Jokowi di Balairung UI, pekan lalu. Sebagai dokter yang pernah hampir dua tahun bertugas di salah satu sudut wilayah Papua, dia bermaksud memberikan gambaran sesungguhnya di pedalaman Papua itu seperti apa. "Hal yang sebenarnya malas untuk saya lakukan, tapi demi lo, Dit...," tulis Yafet.

Ia mengaku pernah bertugas di pedalaman Papua selama 5 tahun. Dari rekaman di facebooknya, Yafet antara lain pernah bertugas di Puskesmas Tubang, Kabupaten Merauke dan dan Puskesmas Haju, Kabupaten Mappi. Melayani di Papua itu, menurut Yafet, kalau tak ikut menggunakan hati sulit. Apalagi kalau sekedar money oriented, pasti bakalan dongkol dan menggerutu dalam bekerja sehari-hari. "Terutama bagi tenaga medis yang melayani di pedalaman-pedalaman terpencil Papua," tulis alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia itu.

[Gambas:Video 20detik]


Karena itu, ia melanjutkan, tidak jarang ditemui banyak teman yang tidak betah untuk bekerja dan memilih untuk secepatnya pulang. Namun tidak sedikit juga yang bertahan dan akhirnya mencintai Papua.

Yafet mengungkapkan hal itu bukan untuk menakut-nakuti Zaadit. Tapi kenyataannya bekerja di pedalaman Papua itu resikonya berat bahkan bisa nyawa taruhannya. Pelayanan kesehatan dari kampung ke kampung yang jauh jaraknya dilakukan dengan menggunakan speed boat, long boat, atau perahu sampan di tengah teriknya matahari, derasnya hujan, apalagi ombak. Kadang juga harus berjalan kaki selama berjam-jam sambil memikul obat dan perlengkapan medis lainnya.

"Hidup dengan ketiadaan akses sinyal, tanpa listrik PLN, transportasi ke kota yang sulit, BBM seharga kopi setarbak. Bah, lengkap sudah penderitaan, tapi entah kenapa nikmat dit (untuk diikenang)," tulis Yafet.

Satu lagi, akses air bersih yang sulit terutama di Papua Selatan (Asmat, Mappi, Merauke). Karena itu biaya yang digelontorkan baik dari pusat maupun daerah bisa saja kebanyakan habis hanya untuk transportasi. Jangan kaget kalau di beberapa pedalaman Papua, mata uang paling kecil itu goceng.

"Pernah kebayang gak, Dit, gak mandi air bersih selama berhari-hari? Atau pernah dengar gak sebagian masyarakat di Asmat pada saat kemarau mandinya air mineral? Hanya di Asmat, Dit, mineral water yang biasa lo minum itu dipake buat ngebilas daki…," tulis Yafet.


(jat/jat)Sumber: Google News | Warta 24 Kabupaten Mappi

Tidak ada komentar