Syuting film ke luar negeri bukan sekadar pamer - Warta 24 Papua
GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Syuting film ke luar negeri bukan sekadar pamer

Syuting film ke luar negeri bukan sekadar pamer

Keterangan Gambar : Empat tokoh utama film Satu Hari Nanti dengan latar panorama salah satu kawasan di Swiss��������������������������������������������������������������������������…

Syuting film ke luar negeri bukan sekadar pamer

Keterangan Gambar : Empat tokoh utama film Satu Hari Nanti dengan latar panorama salah satu kawasan di Swiss

Menampilkan keindahan "rumput tetangga" dalam sejarah perfilman Indonesia bermula sejak Perkawinan (1972) arahan Wim Umboh.

Periode tutup tahun 2017 menghadirkan film Satu Hari Nanti (tayang 7/12) dan Ayat-Ayat Cinta 2 (26/12). Dua film tadi punya kesamaan: proses syuting berlangsung di luar negeri. Bukan hanya sebagian, tapi keseluruhan adegan.

Salman Aristo, sutradara Satu Hari Nanti, menyebut syuting film berdurasi sekitar 126 menit itu berlangsung di Swiss.

Selama 26 hari, para kru dan pemain melakukan pengambilan gambar di Interlaken, Thun, Brienz, Bern, dan Gu nung Jungfrau.

Dalam acara konferensi pers yang berlangsung di Qubicle Center, Senopati, Jakarta Selatan, (15/11), Aris --sapaan Salman Aristo-- menggaransi bahwa filmnya bukan sekadar pamer keindahan visual.

Sebagai orang yang juga dipercaya menulis skenario, Aris bekerja maksimal menjadikan jalinan cerita Satu Hari Nanti sama memikatnya dengan pemandangan alam Swiss.

Film ini menyoroti perjalanan hidup Alya (diperankan Adinia Wirasti), Bima (Deva Mahenra), Chorina (Ayushita), dan Din (Ringgo Agus) yang sedang melakukan evaluasi diri.

Masing-masing berupaya mencari makna kehidupan di tempat asing yang masyarakatnya menganut kultur berbeda.

Potensi film yang berupa kekayaan visual dan kedalaman cerita sekilas sudah dapat terlihat melalui trailer yang diunggah akun Rumah Film di YouTube (14/11).

Bima yang memanggul gitar di punggungnya berjalan selangkah di depan Alya. Mereka menyusuri jalan setapak di samping sungai Thun.

"Bim, aku ta hu kamu selingkuh dengan Chorina," ujar Alya. Bima seketika menghentikan langkahnya. Hening.

Gambar lantas berpindah. Kali ini menampilkan adegan Chorina sedang membuat pengakuan dihadapan Din.

Saat Faozan Rizal sebagai penata kamera menyoroti wajah Chorina dari jarak dekat, bingkai gambar juga berisi pemandangan pegunungan hijau dan danau yang riak airnya berwarna zamrud.

Beragam alasan melakukan pengambilan gambar di luar negeri. Ada yang memang untuk kesesuaian cerita.

Contohnya Ada Apa dengan Cinta? 2 (2016) yang melakukan sebagian pengambilan gambar di New York, Amerika Serikat (AS).

Dikisahkan saat adegan terakhir dari seri pertama, Rangga (Nicholas Saputra) pamit kepada Cinta (Dian Sastrowardoyo) untuk kuliah ke kota berjuluk Apel Besar tersebut.

Contoh lain adalah film 99 Cahaya di Langit Eropa (2014), Negeri van Oranje (2015), Winter in Tokyo (2016), atau Critical Eleven (2017) yang merupakan ekranisasi. Kisah dalam sumber aslinya punya setting di luar negeri.

Dengan alasan totalitas mengejar keaslian dalam novel, atau biasanya memenuhi syarat yang diajukan sang empunya cerita, produser rela memboyong kru dan pemain ke mancanegara.

Manoj Punjabi dari MD Pictures, misalnya. Sejak berhasil mengantongi izin memfilmkan Ayat-Ayat Cinta 2 (AAC 2) sudah bertekad all out agar mendapatkan hasil optimal.

Salah satu caranya dengan memboyong para pemain beserta kru untuk melakoni syuting selama 28 hari di Edinburgh (Skotlandia) dan Oxford (Inggris). Beberapa awak media dari stasiun televisi juga diikutkan untuk meliput jalannya syuting.

Walaupun enggan membocorkan total biaya produksi film, Manoj menyebut bahwa pengeluaran untuk AAC 2 melebihi Surga yang Tak Dirindukan 2 yang menelan lebih dari Rp16 miliar.

Julie Estelle (kiri) dan Tyo Pakusadewo dalam film    Surat dari Praha yang berlatar Kota Praha, Ceko
Julie Estelle (kiri) dan Tyo Pakusadewo dalam film Surat dari Praha yang berlatar Kota Praha, Ceko
/Visinema Pictures

Alasan lain mengapa syuting di luar negeri jadi pilihan tentu saja perkara memanjakan mata penonton dengan mengeksploitasi pemandangan yang ada.

"Sebagai sineas, memberikan hadiah kepada penonton berupa visual yang indah adalah sebuah keharusan," ujar Asep Kusdinar kepada Beritagar.id saat konferensi pers film One Fine Day di CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat (9/10).

Film One Fine Day (rilis 12/10) menghabiskan 14 hari syuting di Barcelona, Spanyol.

Beberapa tempat yang diekploitasi Rama Hermawan selaku penata kamera, antara lain La Rambla, Marina Bay, dan Plaza de Cataluna.

Asep yang pernah menjadi asisten sutradara Garin Nugroho termasuk langganan syuting di luar negeri. Sebelumnya ia meny utradarai London Love Story (2016) yang syutingnya berlangsung di London, Inggris.

Berselang setahun, Screenplay Films kembali memercayainya sebagai nakhoda film Promise (2017) yang menghabiskan waktu syuting sekitar dua pekan menjelajahi Milan, Bellagio, dan Como di Italia.

Untuk menggarap sekuel London Love Story (2017), latar cerita bukan hanya berlangsung di London, Inggris, tapi menyeberang hingga ke Swiss.

Selama menjalani syuting di mancanegara, Asep merasakan betul perbedaan ketika syuting di negeri sendiri.

Bukan hanya terkait soal bahasa, kultur, makanan, atau cuaca yang terkadang menghadirkan kendala, tapi juga soal perizinan.

Syuting di luar negeri, kata Asep, memberikan kemudahan karena tidak harus repot mengirim surat ke berbagai pihak.

Cukup dengan satu surat, mulai pihak keamanan hingga pemilik tempat yang menjadi lokasi syuting sudah patuh.

Bandingkan misalnya dengan kondisi yang dialami sineas yang hendak menjadikan Kot a Lama di Semarang, Jawa Tengah, sebagai lokasi syuting.

Alur yang harus ditempuh merentang mulai dari RT/RW, kelurahan, kecamatan, Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L), dan Kepolisian. Itu belum termasuk pungutan liar alias "jatah preman" (japre) yang membikin ongkos produksi semakin membengkak.

Kelebihan lain syuting di luar negeri ada pada efisiensi waktu. Para pemain dan kru disiplin terhadap jadwal karena berhubungan erat dengan biaya.

Semua proses juga harus sesuai jadwal yang telah tersusun sejak jauh hari. Tidak boleh mengubah lokasi secara mendadak karena dengan demikian harus mengurus perizinan baru yang akan memakan waktu. Alhasil syuting film jadi cepat rampung.

Terkait kemudahan dan kejelasan soal perizinan, Angga Sasongko juga menyatakan hal serupa ketika syuting film Surat dari Praha (2016).

Setiap lokasi sudah punya skema tarif yang jelas. Misal ingin mengambil gambar dengan jarak tertentu, atau ingin menempatkan kamera di titik mana, semua sudah tercantum biayanya. Sangat detail.

Tarif yang jelas dan pasti sangat membantu dalam hal penyusunan bujet sebuah produksi film.

Oleh karena itu, Asep mengharapkan agar perizinan syuting di dalam negeri juga tidak berbelit-belit.

Sophan Sophiaan (kiri) dan Widyawati dalam salah satu adegan film Perkawinan (1972)
Sophan Sophiaan (kiri) dan Widyawati dalam salah satu adegan film Perkawinan (1972)
/perfilman.pnri.go.id

Kebiasaan rumah produksi melakukan syuting di luar negeri sebenarnya sudah berlangsung cukup lama.

Dalam berbagai catatan, Perkawinan (1972) karya Ahmad Salim alias Wim Umboh merupakan film Indonesia pertama yang syuting di Eropa.

Sebelumnya produser Turino Djunaidy, pemilik PT Sarinade Film s, telah menjadikan Hongkong sebagai lokasi syuting Djakarta - Hongkong - Macao (1968)*.

Sebagai bentuk penegasan, poster film Perkawinan yang dibintangi Sophan Sophiaan dan Widyawati itu bertuliskan, "film Indonesia pertama yang diopname di Eropa: Swiss, Holland, dan Perancis".

Kata opname yang dipungut dari Bahasa Belanda memang punya banyak makna, antara lain kegiatan pemotretan dan perekaman suara atau video.

Film ini memborong delapan Piala Citra di Festival Film Indonesia 1973, masing-masing untuk kategori sutradara, skenario, sinematografi, penyunting, tata artistik, tata suara, tata musik, dan film terbaik.

Yang patut kita sesalkan, salinan negatif dan positif film tersebut telah raib. Bahkan Wim, seperti tertulis dalam buku "Perfilman Indonesia (kumpulan catatan): Suatu Sketsa" terbitan Lambaga Studi Film (1994) karya Marselli Sumarno, mengaku tak tahu ke mana salinan filmnya itu berada (hal. 90).

Setelah itu, film nasional yang melakukan syuting di luar negeri, khususnya di Asia dan Eropa, sudah tidak lagi menjadi pemandangan asing. Misalnya Mistery in Hongkong (1974), Semalam di Malaysia (1975), Naga Merah (1976), atau Jaringan Antar Benua (1978). Kebanyakan hasil kongsi dengan rumah produksi asing.

Memasuki dekade 80an, kebiasaan ini masih berlanjut. Untuk menyebut beberapa, ada Bunga Bangsa (1982), Secawan Anggur Kebimbangan (1985), Ketika Musim Semi Tiba (1986) hasil adaptasi novel karya mendiang Bondan Winarno, dan Arini, Masih Ada Kereta yang Akan Lewat (1987) yang juga ekranisasi karangan Mira Widjaja.

Yang paling fenomenal mungkin perjalanan tokoh idola remaja kala itu, Boy (Onky Alexander), dalam film Catatan Si Boy arahan Nasri Cheppy. Pada seri ketiga (1989) dan kelima (1991), film ini melakoni syuting di Los Angeles, California, AS.

Ketika perfilman Indonesia bangun dari tidur yang berkepanjangan mulai awal era 2000-an, tren melakukan syuting di luar negeri kembali marak.

Film Eiffel... I'm in Love (2003) yang disutradarai Nasri jadi pemantik. Atmosfer Kota Paris, Prancis, jadi saksi bersatunya cinta dua remaja, Tita (Shandy Aulia) dan Adit (Samuel Rizal).

Film adaptasi novel berjudul sama karangan Rachmania Arunita itu kemudian membukukan angka 2,9 juta penonton.

Setelah Eiffel... I'm in Love, hadir Apa Artinya Cinta? (2005) produksi Soraya Intercine Films yang sekitar sebulan melakukan pengambilan gambar di San Fransisco.

Ram Soraya, produser AAC kala itu berpendapat pemilihan San Fransisco sebagai lokasi syuting selain karena tuntutan cerita, juga untuk memberi gambaran berbeda kepada penonton.

Sebab lokasi yang berbeda akan membuat film lebih menarik. Imbasnya membuat penonton jadi semakin menggebu untuk datang menonton ke bioskop.

Argumentasi Ram tadi masih dianut oleh sejumlah filmmaker kita hingga sekarang. "Selain untuk mengakomodir cerita, syuting di luar negeri juga untuk jualan kepada p enonton usia muda. Sebagai daya jual untuk promosi," terang Asep Kusdinar.

Reza Rahadian pemeran Ale dalam film Critical Eleven dengan latar Jembatan Brooklyn, New York, Amerika Serikat
Reza Rahadian pemeran Ale dalam film Critical Eleven dengan latar Jembatan Brooklyn, New York, Amerika Serikat
/Starvision dan Legacy Pictures

Formula mengejar latar pemandangan di mancanegara untuk daya jual promosi kepada penonton, seperti dipaparkan Asep Kusdinar, kemudian banyak diikuti sineas lain.

Memang tidak semuanya laris di pasaran, sebab faktor penentu laris tidaknya sebuah film melibatkan banyak variabel.

Ambil contoh film Haji Backpacker (tayang 2 Oktober 2014) produksi Falcon Pictures. Produser menyebut ongkos produksi menghabiskan sekitar Rp10 miliar, belum termasuk pembiayaan pascaproduksi dan promosi.

Jajaran pemain yang terlibat merupakan bintang populer, seperti Abimana Aryasatya, Dewi Sandra, Laudya Cynthia Bella, Laura Basuki, dan Dion Wiyoko.

Lokasi syuting juga bukan hanya terpaku dalam satu negara, tapi sembilan sekaligus. Mulai dari Thailand, Vietnam, Tiongkok, India, Tebet, Nepal, Iran, Arab Saudi, dan Indonesia.

Dalam empat hari pertama pemutarannya di bioskop, film yang disutradarai Danial Rifky itu sempat berlari kencang dengan raihan 161 ribu penonton. Meraup 900 ribu penonton seperti target semula tampaknya bisa diraih.

Tetapi hingga semua layar untuk film ini sudah tergulung di bioskop, total jumlah tiket yang terjual "hanya" 375.799 lembar.

Apakah kemudian Falcon Pictures, atau rumah produksi lain, kapok membuat film dengan latar di luar negeri? Ternyata tidak.

Terbukti rumah produksi pimpinan H.B. Naveen (45) itu kembali menggarap Negeri Van Oranje (2 015), My Stupid Boss (2016), Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss (2017), dan Surat Kecil untuk Tuhan (2017) yang memerlukan set lokasi di luar negeri.

Mengacu pada catatan filmindonesia.or.id, ada 116 judul film yang tayang di jaringan bioskop tanah air kurun 2016.

Dari angka tersebut, 16 film melakukan proses pengambilan gambar di luar negeri.

Hanya ada empat film yang meraup lebih dari satu juta penonton, yaitu Ada Apa dengan Cinta? 2 (3,6 juta penonton), My Stupid Boss (3 juta penonton), Rudy Habibie (2 juta penonton), dan London Love Story (1,1 juta penonton).

Sepanjang 2017, memilih lokasi syuting di negara orang tetap dilakukan oleh para sineas. Lagi-lagi sebanyak 16 dari 120 judul film yang mengisi jadwal tayang di bioskop tanah air berlangsung di mancanegara.

Hingga artikel ini terbit (2/12), baru dua film yang mencetak angka di atas satu juta penonton, yaitu Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 2 (4 juta) dan Surga Yang Tak Dirindukan 2 (1,6 ju ta).

Apakah itu artinya hamparan keindahan "rumput tetangga" yang dijadikan daya tarik sudah memudar di mata penonton film kita?

Catatan redaksi: Tulisan ini telah mengalami penambahan pada bagian bertanda *.

Andi Baso Djaya

Seni dan hiburan

  • Mengingat Bumi yang terus terhempas cuaca panas Mengingat Bumi yang terus terhempas cuaca panas
  • Dari Puntang hingga Atlanta dengan kopi Dari Puntang hingga Atlanta dengan kopi
  • Ngeri sedap cerita tembakau Indonesia Ngeri sedap ceri ta tembakau Indonesia
MUAT LAGI Sumber: Google News | Warta 24 Pegunungan Bintang

Tidak ada komentar