Sensasi Daun Jati Sego Tewel Tambakromo Pati - Warta 24 Papua
GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}
www.uhamka.ac.id/reg

Sensasi Daun Jati Sego Tewel Tambakromo Pati

Sensasi Daun Jati Sego Tewel Tambakromo Pati

Mempertahankan cita rasa hingga empat generasi, Warung Sego Tewel Bu Siti, Tambakromo, Pati, mampu menjala omzet hingga Rp 4 juta per hari.Yuliardi Wisnu Broto (41), terlihat lahap meny…

Sensasi Daun Jati Sego Tewel Tambakromo Pati

Mempertahankan cita rasa hingga empat generasi, Warung Sego Tewel Bu Siti, Tambakromo, Pati, mampu menjala omzet hingga Rp 4 juta per hari.

Yuliardi Wisnu Broto (41), terlihat lahap menyantap sego tewel (nangka muda) di Warung Bu Siti, Desa Ngerang, Tambakromo, Pati, Minggu (3/12) petang.Beralas daun jati, piring berisikan nasi hangat dengan guyuran sayur tewel dan tempe goreng yang masih panas mengepul itu, dibuatnya tandas tak bersisa.Masih sedikit keroncongan, Yuli kembali meminta tambah porsi sego (nasi) kegemarannya itu. Tak lama, piring pun kembali kosong melompong.Sayur tewel dengan kekenyalan nan enteng, berasa tidak terlalu manis, tidak terlalu asin, juga irisan cabe rawit dengan rasa pedas yang pas, selalu menggugah selera pria yang kini berka rier sebagai enterpreneur di Jakarta ini.Jika pulang kampung ke Pati, Jawa Tengah, bersama kawan-kawannya, ia selalu memastikan untuk bisa bertandang ke Warung Sego Tewel Bu Siti di Tambakromo.

Seperti para pelanggan lainnya, Yuliardi rela mengantre untuk bisa menikmati sedapnya sego tewel dari warung yang telah dikelola secara turun-temurun hingga generasi keempat ini.Tambakromo, kecamatan yang berjarak 19 Km ke arah selatan kota Pati ini memang dikenal sebagai gudangnya kuliner sego tewel. Ada belasan warung berdiri di berbagai sudut desa, dengan pelanggan fanatiknya masing-masing. Yang khas dari sego tewel Tambakromo ini adalah cara penyajiannya yang selalu dialasi lembaran daun jati muda. Daun jati, menurut Siti Sofiah, generasi ketiga pengelola warung, bisa membuat nasi dan kuah tewel jadi beraroma wangi dan sedap. "Diguyuri kuah yang masih panas, daun jati bisa membuat sego tewel kian terasa sedap. Aroma wangi kuahnya tetap terjaga ketika disantap," terang Siti, yang melanjutkan tongkat estafet warung dari ibu mertuanya, Rasiah.

Menyantap sego tewel di Warung Bu Siti jangan membayangkan Anda bisa menyomot aneka lauk seperti ayam goreng, empal, jeroan atau kikil.Hanya ada irisan tempe goreng, bakwan (pia-pia), kerupuk dan rempeyek sebagai pelengkap sego tewel. Suguhan itu memang sengaja dipertahankan dari sejak generasi pertama mendirikan warung 70 tahun silam.Dimulai dari mbah Warti, mbah Rasiah, Siti Sofiah, hingga kini menurun kepada Yeni Purnama Sari, lauk warung ya cuma itu tadi, tempe goreng dan bakwan. "Dari zaman buyut dan nenek saya dulu ya cuma seperti ini menunya. Mungkin rezeki kami memang di sego tewel, t empe dan bakwan. Jika sekarang ada tambahan variasi, paling cuma telur. Itu pun setelah warung saya pegang," papar Yeni, anak Siti Sofiah.Harga sepiring sego tewel di Tambakromo sungguh murah-meriah, Rp 3.000. Sepotong tempe atau bakwan cuma dibanderol Rp 500. Bayangkan saja, memesan 13 porsi sego tewel, menghabiskan 35 buah tempe goreng, menyantap lima buah kerupuk, sebuah rempeyek, sebuah sate telur puyuh, serta menyesap tujuh gelas teh panas, Yuliardi dkk cukup merogoh kocek Rp 80 ribu.Kendati membanderol murah menu sego tewelnya, omzet warung ini terbilang jumbo. Saban hari, tutur Yeni, ia bisa menjala omzet antara Rp 3-4 juta. Pada momentum libur lebaran, omzet warung bisa terkerek naik hingga Rp 4-5 juta setiap harinya.

Membuka warung sejak pukul 15.00 hingga 21.00, setiap hari warung ini mampu mengolah 35-40 k g beras, menghabiskan 10 buah tewel berukuran besar, serta memotong-motong dan menggoreng 120 buah lonjoran tempe berukuran gede. Dibantu enam orang karyawan, Yeni bersama Pujiono, suaminya, mulai memotong tewel dan mempersiapkan bahan masakannya pada pukul 07.00. Aneka bahan tersebut baru dimasak pada pukul 13.00.Tak ada kompor gas di dapur Siti yang menyatu dengan warung. Menanak nasi, mengolah tewel hingga menggoreng tempe atau bakwan semuanya dimasak dengan menggunakan kayu bakar.Melebarkan sayap bisnisnya sejak 1,6 tahun lalu, Siti Sofiati telah membuka cabang di Pasar Pragola Pati, Jl. Raya Pati-Kudus Km 6, Margorejo, Pati. Berada di dalam kawasan Sentra Oleh-oleh dan Produk Unggulan UMKM Pati, harga sepiring sego tewel di sini dijual Rp 5.000 atau terpaut Rp 2.000 dari warungnya di Tambakromo.Ketenaran sego tewel Tambakromo sejajar dengan kuliner kondang khas Pati lainnya: sego gandul (Desa Gajahmati) dan soto kemiri (Desa Kemiri). Bila Anda mampir ke Pati, jajallah beragam kuliner oke dari kota berjuluk "Bumi Mina Tani" ini. (*)Sumber: Google News | Warta 24 Pati

Tidak ada komentar